empty
 
 
25.06.2026 01:02 PM
AUD/USD: masa sulit bagi AUD

Dolar Australia terhadap mata uang AS untuk hari kedua berturut-turut kembali menguji level 0,68, bergerak turun mendekati harga terendah tiga bulan. Penguatan dolar AS memimpin pergerakan turun ini karena penguatan terjadi di berbagai pasar seiring meningkatnya ekspektasi hawkish atas langkah lanjutan The Fed. Dolar Australia juga ikut menekan ke bawah setelah laporan inflasi yang lemah dan data pasar tenaga kerja Australia yang beragam. Kondisi ini memberi peluang yang baik bagi pelaku jual (bear) untuk menembus support di 0,6890 (garis bawah Bollinger Bands pada grafik harian) dan bertahan di kisaran level 0,68.

This image is no longer relevant

Mari kita mulai dengan data CPI bulan Mei yang telah dipublikasikan. Hal yang paling menonjol adalah melambatnya inflasi headline. Laju tahunan indeks harga konsumen headline turun menjadi 4,0% dari 4,3% pada bulan April. Indikator ini menunjukkan tren menurun untuk bulan kedua setelah mencapai puncak di 4,6% pada Maret. Yang patut diingat, komponen laporan ini justru keluar di bawah ekspektasi karena pasar memperkirakan inflasi akan naik ke 4,4% di tengah krisis Timur Tengah dan lonjakan harga minyak (ingat bahwa laporan ini mencakup bulan Mei, ketika Selat Hormuz sepenuhnya terblokir). Angka aktual jauh lebih lemah dibandingkan prediksi.

Apa artinya ini? Pertama, faktor minyak telah berhenti mendorong inflasi naik lebih tinggi. Pada Mei, harga bahan bakar turun, sehingga meredakan tekanan dari biaya transportasi. Perlambatan kenaikan harga transportasi menjadi salah satu kontributor utama penurunan CPI headline.

Bagi Reserve Bank of Australia, ini merupakan sinyal yang penting, bahkan dapat dibilang krusial, karena guncangan energi sebelumnya dianggap sebagai risiko utama di balik gelombang inflasi musim semi.

Argumen lain yang membebani the Aussie adalah turunnya ekspektasi inflasi rumah tangga. Menurut survei ANZ terbaru, ekspektasi inflasi turun menjadi 6,3% pada Mei dari 7,0% di April (ekspektasi jangka panjang turun menjadi 5,8%). Ini signifikan (termasuk bagi RBA), karena penurunan ekspektasi inflasi biasanya mendahului perlambatan inflasi aktual.

Di sisi lain, inflasi inti secara tak terduga justru meningkat pada Mei, dari 3,4% menjadi 3,6% year-on-year, yang menunjukkan bahwa tekanan harga domestik belum hilang. Namun, pasar berfokus pada penurunan CPI headline, yang telah melambat selama dua bulan berturut-turut, berlawanan dengan ekspektasi. Dinamika ini menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga RBA lebih lanjut dalam jangka pendek.

Data pasar tenaga kerja bulan Mei yang dirilis hari ini hanya semakin menegaskan gambaran fundamental yang lebih luas, meskipun secara sekilas tampak kuat: jumlah tenaga kerja meningkat 40.000 (setelah penurunan pada April), dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,4% dari 4,5%.

Namun, komposisi rilis data ini mengisyaratkan tren yang mengkhawatirkan.

Pertama, sebagian besar lapangan kerja baru berada di sektor paruh waktu, sementara lapangan kerja penuh waktu hanya tumbuh secara moderat (pembagian 35.000/5.000). Pasar lebih menghargai pertumbuhan berkelanjutan pada lapangan kerja penuh waktu: pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang didorong oleh peran paruh waktu biasanya menunjukkan bahwa pemberi kerja enggan menambah jumlah karyawan tetap. Ini merupakan salah satu tanda bahwa pasar tenaga kerja secara bertahap mulai mendingin.

Sinyal negatif kedua adalah penurunan 1,1% per bulan pada total jam kerja. Ini barangkali merupakan komponen terlemah dari laporan Mei dan pada dasarnya mengimbangi angka utama yang tampak positif. Secara formal jumlah lapangan kerja bertambah, tetapi secara efektif perekonomian justru memperoleh lebih sedikit jam kerja. Pola ini mengarah pada penurunan aktivitas bisnis dan melemahnya permintaan tenaga kerja dari perusahaan.

Sinyal negatif ketiga adalah penurunan lowongan kerja. Data yang dipublikasikan minggu ini menunjukkan lowongan terbuka turun 2,1% quarter-on-quarter dan 2,1% year-on-year pada Q2, dengan penurunan tajam permintaan tenaga kerja terutama di sektor keuangan dan jasa. Lowongan kerja merupakan indikator utama pasar tenaga kerja: penurunan biasanya mendahului perlambatan perekrutan dan kenaikan pengangguran dalam beberapa bulan berikutnya.

Data ketenagakerjaan bulan Mei sebaiknya dilihat dalam konteks makro yang lebih luas. Pertumbuhan PDB Q1 lemah, aktivitas konsumsi masih tidak stabil, dan tingginya biaya pinjaman terus menekan permintaan domestik. Dalam kondisi seperti ini, bahkan pelemahan moderat di pasar tenaga kerja dapat dengan cepat berujung pada pelemahan yang lebih signifikan pada tingkat pekerjaan.

Singkatnya, rilis data makro pekan ini secara signifikan telah mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga RBA lebih lanjut. Bahkan, pasar kini mulai membicarakan kemungkinan pelonggaran kebijakan pada paruh kedua tahun ini. Melebarnya perbedaan arah kebijakan moneter antara Fed dan RBA menekan AUD/USD dan mendukung potensi pelemahan lebih lanjut.

Meskipun demikian, masuk ke posisi jual baru akan lebih bijak dilakukan hanya setelah penjual berhasil memaksa terbentuknya breakout yang jelas di level 0,6890 (garis bawah Bollinger Bands pada grafik harian), yang akan membuka jalan menuju penghalang berikutnya di 0,6850 (garis bawah Bollinger Bands pada grafik mingguan).

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.