Fund 'Dewan Perdamaian' Trump Kesulitan Pendanaan
Dana internasional yang dikenal sebagai "Dewan Perdamaian," yang diprakarsai oleh Donald Trump untuk membiayai pemulihan pasca-perang di Gaza, telah menemukan dirinya dalam kebuntuan hukum dan politik yang mendalam. Meskipun para pemimpin dan donor global, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, secara terbuka menjanjikan total $17 miliar kepada organisasi tersebut, belum satu sen pun yang disetorkan ke rekeningnya hingga saat ini. Menurut Financial Times, mengutip sumber-sumber yang mengetahui, status dan fungsi sebenarnya dari dana tersebut tetap sepenuhnya tidak transparan. Orang dalam menyarankan bahwa Trump memandang proyek tersebut lebih sebagai "istana kerajaan pribadinya," sementara dalam praktiknya, dana tersebut gagal mendapatkan kontrak apa pun untuk konstruksi atau penyediaan keamanan di wilayah Timur Tengah.
Gagasan untuk membuat proyek ini pertama kali diumumkan oleh Trump pada September 2025 sebagai bagian dari rencana penyelesaian konflik dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pada November 2025, inisiatif ini mendapatkan pengakuan internasional ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 2803, yang memberikan wewenang kepada "Dewan Perdamaian" untuk bertindak sebagai administrasi transisi untuk Gaza hingga akhir tahun 2027, sehingga secara hukum membuka proyek tersebut untuk mengakses anggaran federal AS. Pada Januari 2026, Trump meluncurkan organisasi tersebut dengan gaya khasnya, menyebutnya sebagai "dewan terbesar yang pernah dibentuk." Namun, ambisi Gedung Putih yang berlebihan segera menimbulkan kekhawatiran yang signifikan di ibu kota Eropa, di mana struktur baru tersebut dipandang sebagai upaya langsung Washington untuk menciptakan pesaing yang dikendalikan oleh PBB.
Menurut piagam organisasi tersebut, keanggotaan standar ditetapkan selama tiga tahun, tetapi peserta dapat mengamankan kursi seumur hidup di dewan dengan kontribusi satu kali sebesar $1 miliar. Hingga Mei 2026, para pendiri resminya termasuk 28 negara, di antaranya negara-negara Teluk Persia, Turki, Kazakhstan, dan Belarus. Baru-baru ini, menantu Trump, Jared Kushner, mempresentasikan proyek futuristiknya "Project Sunrise" di Davos, yang membayangkan transformasi besar-besaran garis pantai Gaza menjadi resor teknologi dan pusat ekonomi pada tahun 2035. Para ahli memperkirakan bahwa wilayah tersebut akan membutuhkan $70 miliar selama dekade berikutnya. Namun, dana khusus yang dikelola oleh Bank Dunia tetap kosong karena keengganan para peserta untuk beralih dari deklarasi ke pencairan dana yang sebenarnya.